Kolaborasi untuk Keluarga Tangguh: Menjawab Stunting dan Kerentanan Pascabencana

Kitabisa x Kemendukbangga: Kolaborasi untuk Masyarakat
Fania Nur Athiyah
September 21, 2026

Pagi itu, alunan Sasando mengisi salah satu ballroom Hotel Aryaduta, Jakarta. Sanggar Seni Yuda Asri membawakan kesenian khas Nusa Tenggara Timur sebagai pembuka acara “Kolaborasi Bersama untuk Keluarga Indonesia Tangguh: Sinergi bersama Yayasan Kitabisa dalam Mendukung Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting.”

Acara ini merupakan bagian dari kolaborasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN bersama Yayasan Kitabisa untuk memperkuat upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting di Indonesia.

Melalui semangat Kita Bisa Bangkit Bersama, kolaborasi ini mempertemukan pemerintah, yayasan, mitra, dan berbagai pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendukung keluarga yang menghadapi risiko stunting, terutama mereka yang berada dalam kondisi rentan.

Pemilihan Sasando sebagai pembuka pun terasa relevan dengan salah satu fokus kegiatan, yakni dukungan bagi keluarga terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur, yang menghadapi tantangan pemenuhan kebutuhan dasar sekaligus risiko stunting.

GENTING dan Ajakan Kolaborasi untuk Cegah Stunting

Dalam laporannya, Wahyuningsih, S.IP., MPH., Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat, memaparkan GENTING atau Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting, sebuah gerakan yang diinisiasi Kemendukbangga/BKKBN untuk mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045.

Melalui GENTING, pemerintah mengajak berbagai mitra, mulai dari perusahaan, yayasan, komunitas, hingga pihak-pihak yang memiliki sumber daya dan kepedulian yang sama untuk terlibat sebagai orang tua asuh dalam pencegahan stunting.

Kolaborasi tersebut diarahkan terutama kepada kelompok yang berada dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, hingga anak usia dini.

Dalam paparannya juga disampaikan bahwa prevalensi stunting nasional saat ini berada pada angka 19,8%, atau kurang lebih satu dari lima anak balita.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak dan tidak dapat hanya mengandalkan intervensi pemerintah.

Upaya itu menjadi semakin penting di wilayah terdampak bencana. Di Nusa Tenggara Timur, misalnya, bencana turut memengaruhi kemampuan keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar. Bagi keluarga yang sebelumnya telah berada dalam kondisi rentan, proses pemulihan pascabencana menjadi lebih berat karena kebutuhan seperti pangan bergizi, air bersih, sanitasi, hingga hunian yang layak juga ikut terdampak.

Karena itu, intervensi GENTING tidak hanya diarahkan pada pemenuhan asupan gizi, tetapi juga memperhatikan berbagai faktor yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak dan ketahanan keluarga.

Sesi dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman bersama Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, untuk memperkuat kolaborasi dalam percepatan penurunan stunting.

Stunting Tidak Bisa Diselesaikan Sendiri

Pesan tentang pentingnya kolaborasi kemudian diperkuat oleh Dr. Wihaji, S.Ag., M.Pd., Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN.

Dalam sambutannya, Wihaji menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi Indonesia. Dari sekitar 74 juta keluarga, menurut data yang disampaikan dalam acara, terdapat sekitar 8,1 juta keluarga yang berisiko stunting.

Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan persoalan makanan. Kondisi sanitasi yang tidak layak, akses terhadap air minum yang belum memadai, pernikahan usia muda, hingga kurangnya edukasi mengenai pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan anak turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Karena persoalannya berlapis, penanganannya pun membutuhkan pendekatan lintas sektor. Menurut Wihaji, ketika salah satu faktor risikonya adalah pernikahan dini, misalnya, pemerintah perlu bekerja bersama Kementerian Agama dan berbagai pihak terkait. Begitu pula ketika permasalahannya berkaitan dengan edukasi pengasuhan, sanitasi, maupun akses terhadap kebutuhan dasar.

Dukungan bagi keluarga juga tidak selalu cukup dalam bentuk bantuan materi. Edukasi menjadi bagian penting agar keluarga dapat memahami kebutuhan gizi, pengasuhan, dan tumbuh kembang anak dengan lebih baik.

Menjaga 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Salah satu periode yang menjadi perhatian utama adalah 1.000 Hari Pertama Kehidupan, sejak masa kehamilan hingga anak berusia sekitar dua tahun.

Periode ini merupakan masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Karena itu, intervensi sedini mungkin diperlukan agar risiko stunting dapat dicegah sebelum berdampak lebih jauh terhadap masa depan anak.

Setiap tahunnya, dalam paparan Menteri disebutkan sekitar 4,7–4,9 juta anak lahir di Indonesia. Dengan jumlah sebesar itu, upaya menjaga kualitas tumbuh kembang setiap anak menjadi bagian penting dari cita-cita membangun Generasi Emas Indonesia 2045.

“Sekecil apa pun yang kita kerjakan, menurut saya berarti. Menyelamatkan satu orang sama dengan menyelamatkan satu kehidupan.” ujar Wihaji.

Program pemerintah untuk memenuhi kebutuhan gizi telah berjalan, namun masih terdapat kelompok dan wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau. Di sinilah kolaborasi dengan masyarakat, dunia usaha, yayasan, dan mitra lainnya menjadi semakin penting.

Bagi Wihaji, membentuk generasi emas memang membutuhkan proses panjang. Namun setiap dukungan yang diberikan hari ini dapat menjadi investasi besar bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Dari Kepedulian Menjadi Gotong Royong yang Lebih Besar

Semangat kolaborasi tersebut kemudian dilanjutkan melalui pemaparan Vikra Ijas, Chief Executive Officer Kitabisa Group. Vikra menggambarkan Kitabisa sebagai sebuah ekosistem kebaikan yang lahir dari keyakinan bahwa kepedulian dapat menghasilkan dampak yang lebih besar ketika dilakukan bersama.

Menurutnya, Kitabisa hadir untuk menjembatani niat baik banyak orang agar dapat sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Bagi Vikra, tantangan hari ini bukan hanya bagaimana menghadirkan bantuan, tetapi juga menjaga agar masyarakat tidak kehilangan harapan di tengah situasi yang sulit.

Semangat gotong royong ini terlihat setiap kali bencana terjadi. Berbagai lembaga kemanusiaan, organisasi sosial, komunitas, hingga individu bergerak cepat memberikan bantuan. Namun, menurut Vikra, ada satu fase yang sering luput dari perhatian: masa setelah keadaan darurat berlalu.

“Bencana bukan hanya tentang kejadiannya, tapi tentang manusia-manusia yang harus menjalani kehidupan setelah bencana.”

Bencana mungkin terjadi dalam hitungan detik, tetapi proses untuk kembali pulih bisa berlangsung sangat panjang.

Kondisi itu menjadi semakin kompleks ketika keluarga yang terdampak memiliki anak kecil, bayi, atau bahkan ibu yang sedang hamil. Mereka tidak hanya membutuhkan bantuan untuk bertahan hari itu, tetapi juga pendampingan agar kebutuhan dasar, kesehatan, gizi, dan tumbuh kembang anak tetap terjaga selama proses pemulihan.

Karena itu, bantuan jangka panjang menjadi bagian penting dari respons pascabencana.

Kitabisa juga memperkenalkan inisiatif peta kebutuhan dan penyaluran bantuan, termasuk untuk wilayah terdampak gempa di NTT. Melalui peta tersebut, kebutuhan di lapangan dan bantuan yang telah disalurkan dapat dipetakan sehingga dukungan dari berbagai pihak diharapkan bisa lebih tepat sasaran.

Cerita dari Mereka yang Hadir Langsung di NTT

Setelah rangkaian pemaparan, acara berlanjut ke sesi talkshow yang menghadirkan tiga sosok yang terlibat langsung dalam pendampingan masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur:

Thomas A. B. Hikmat, Pengurus PMI Bidang Penanggulangan Bencana Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur; Dr. M. Imdadun Rahmat, Deputi II BAZNAS RI; dan Fahri Amirullah, Chief Operation Officer Kitabisa Group.

Ketiganya membawa cerita yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah: kebutuhan masyarakat tidak berhenti ketika fase darurat selesai.

Dari Masa Darurat Menuju Pemulihan

Thomas A. B. Hikmat, yang akrab disapa Bang Tommy, merasakan langsung situasi ketika bencana terjadi di Manggarai.

Saat itu, listrik padam dan jaringan komunikasi terputus. Sejumlah wilayah tidak dapat berhubungan dengan keluarga maupun pihak luar. Jalan tertutup bebatuan dan reruntuhan, sementara penerangan hanya tersedia di beberapa titik penting seperti rumah sakit.

Pada hari-hari awal, kebutuhan paling mendesak adalah memastikan warga yang mengungsi bisa makan. Banyak dari mereka datang ke tempat pengungsian hanya dengan barang seadanya.

PMI kemudian melakukan pendataan secara cepat dan membuat sistem kupon makanan agar distribusi bantuan dapat berlangsung lebih tertib dan mengurangi antrean panjang.

Di tengah proses tersebut, Bang Tommy melihat kekuatan lain yang muncul dari masyarakat sendiri. Sejumlah komunitas yang sebelumnya mendapatkan pendampingan kesiapsiagaan dari PMI mampu bergerak secara mandiri, bergotong royong membersihkan jalur, membantu warga lain, dan mengorganisasi kebutuhan di lingkungan mereka.

Ketika PMI bertemu dengan Kitabisa dan sejumlah lembaga lain di posko, pembicaraan pun mulai bergeser dari bantuan darurat menuju kebutuhan jangka panjang.

“Setelah kebutuhan dasar warga terdampak gempa di NTT mulai terpenuhi, kami mulai memikirkan cara membantu mereka, terutama anak-anak, kembali memiliki rutinitas di tengah situasi darurat.”

Salah satu jawaban yang kemudian muncul adalah program pendampingan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.

Program tersebut tidak hanya menghadirkan aktivitas bagi anak, tetapi juga melibatkan guru PAUD dan guru setempat untuk membantu mereka perlahan kembali memiliki rutinitas.

Bagi Bang Tommy, pembelajaran terbesarnya adalah bahwa masih banyak kebutuhan yang muncul setelah masa darurat berlalu. Dukungan jangka panjang diperlukan agar masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari sekaligus semakin siap menghadapi risiko bencana di masa depan.

“Rumah Boleh Runtuh, tapi Jiwa Tidak Boleh Runtuh”

Cerita lain datang dari Dr. M. Imdadun Rahmat, Deputi II BAZNAS RI, yang membagikan pengalaman tim BAZNAS ketika menjangkau sejumlah wilayah terdampak.

Di Desa Kajulaki, misalnya, BAZNAS menyalurkan bantuan yang salah satunya berasal dari dukungan Merdeka Group. Perjalanan kemudian berlanjut ke berbagai wilayah lain. Di titik lain, perjalanan harus terhenti karena jembatan terputus dan jalan tertutup batu besar akibat longsor.

Mereka terus masuk ke wilayah yang lebih jauh, termasuk Desa Pota, untuk menghadirkan dapur umum dan memenuhi berbagai kebutuhan dasar masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, salah satu warga menyampaikan kalimat yang membekas: “Rumah boleh runtuh, tapi jiwa tidak boleh runtuh.”

Memasuki hari ke-31 penanganan di lapangan, menurut pemaparan Imdadun, BAZNAS telah hadir melalui 92 posko di enam kabupaten dan 12 kecamatan dengan 16 program.

Dukungan tersebut mencakup dapur umum, hunian sementara, sekolah darurat, sembako, posko dan distribusi air bersih, hygiene kit, layanan kesehatan, hingga pendampingan psikososial bagi anak-anak terdampak bencana.

Bagi BAZNAS, bantuan tidak hanya ditujukan agar warga mampu bertahan, tetapi juga untuk menemani proses mereka memulihkan luka dan perlahan bangkit kembali.

Bantuan Harus Sesuai dengan Kebutuhan di Lapangan

Sementara itu, Fahri Amirullah, Chief Operation Officer Kitabisa Group, membagikan sejumlah pertemuan yang ia alami ketika berada di posko.

Salah satunya adalah dengan seorang anak yang memiliki kondisi bibir sumbing dan belum menyelesaikan rangkaian operasi. Anak tersebut sangat membutuhkan susu karena kesulitan mengonsumsi makanan lain.

Pertemuan itu mengingatkan Fahri bahwa bantuan tidak selalu dapat disamaratakan. Apa yang terlihat sederhana bagi satu orang bisa menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi orang lain.

Ia juga melihat bagaimana trauma masih membekas pada anak-anak. Bahkan ketika gempa susulan kecil terjadi, beberapa anak langsung berteriak dan berlari karena ketakutan.

Pada kesempatan lain, seorang perempuan bernama Yuli datang membawa daftar nama ibu hamil yang berada di pengungsian. Ia khawatir karena sebagian dari mereka harus tidur di atas tikar tipis dalam kondisi kehamilan.

Namun di tengah berbagai keterbatasan tersebut, hal yang paling membekas bagi Fahri justru adalah kepedulian warga terhadap satu sama lain.

Mereka yang sama-sama menjadi korban masih menyempatkan diri mendata tetangganya, mencari tahu siapa yang membutuhkan bantuan, hingga menyampaikan kondisi kelompok yang lebih rentan.

“Kami yang datang, kami yang justru terinspirasi dengan apa yang mereka lakukan di sana.”

Gotong royong itu juga melampaui perbedaan agama. Warga saling membantu memenuhi kebutuhan satu sama lain tanpa melihat latar belakang keyakinan.

Salah satu warga bahkan menggambarkan kekuatan tersebut dengan sederhana:

“Kalau tidak ada keluarga, kalau tidak ada satu sama lain, mungkin kita tidak bertahan. Karena kita bersama-sama, makanya kita bisa bertahan.”

Di tengah semua cerita tersebut, anak-anak justru menjadi salah satu sumber kekuatan bagi keluarga. Ketika mereka kembali tersenyum, bermain, dan bersemangat, orang tua pun ikut mendapatkan alasan untuk bertahan.

Dari Tanggap Darurat Menuju Pemulihan Jangka Panjang

Cerita dari lapangan menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat setelah bencana jauh lebih luas daripada bantuan pada hari-hari pertama.

Pangan, air bersih, tempat tinggal sementara, dan layanan kesehatan memang sangat penting dalam fase darurat. Namun setelah itu, masih ada trauma yang perlu dipulihkan, kebutuhan ibu hamil dan anak yang perlu dijaga, akses pendidikan yang perlu dikembalikan, serta keluarga yang membutuhkan dukungan untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Di titik inilah semangat Kita Bisa Bangkit Bersama menemukan maknanya.

Bukan hanya tentang seberapa cepat bantuan datang, tetapi juga seberapa lama kita bersedia membersamai proses pemulihan.

Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas dukungan kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan, termasuk mereka yang tengah berjuang untuk pulih setelah bencana.

Sebab mencegah stunting bukan hanya tentang memastikan seorang anak mendapatkan cukup makanan hari ini. Ada sanitasi, air bersih, pola pengasuhan, kesehatan ibu, kondisi tempat tinggal, hingga lingkungan sosial yang turut menentukan kualitas tumbuh kembang mereka.

Dan dari berbagai cerita yang hadir hari itu, ada satu pesan yang terasa semakin kuat: menjaga satu anak agar dapat tumbuh sehat berarti ikut menjaga kesempatan satu generasi untuk memiliki masa depan yang lebih baik.

Related Tags
Follow us