Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian lapangan yang dilaksanakan di tahun 2022 yang dilaksanakan selama 5 hari. Penelitian dilaksanakan dengan mewawancarai narasumber masyarakat setempat dengan berbagai latar belakang pekerjaan, juga berkeliling sekitar pulau untuk melihat kondisi riil berdasarkan wawancara yang dilaksanakan.
Pada saat menjabat menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno mendorong pembangunan, pengembangan, dan revitalisasi pariwisata berkelanjutan menjadi salah fokus utama pemerintah pada tahun 2022 silam. Salah satu wilayah dengan pembangunan pariwisata yang cukup masif dan ditekan pada periode kepemimpinan beliau adalah wilayah Kepulauan Seribu yang juga bagian dari Provinsi DKI Jakarta. Mira dan Kurniawan (2020) menyatakan bahwa perkembangan sektor pariwisata di Kepulauan Seribu telah menjadikan sektor pariwisata ini sebagai salah satu tulang punggung perekonomian. Pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, Pulau Untung Jawa, salah satu pulau yang berada di gugusan Kepulauan Seribu, berhasil meraih gelar Desa Wisata Terbaik.
Pulau Untung Jawa adalah salah satu kelurahan dan pulau penduduk yang terletak di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Pulau Untung Jawa dengan luas kurang lebih 105ha, merupakan pulau yang memiliki jarak terdekat dengan Pulau Jawa, sehingga pulau ini juga dikenal sebagai “Gerbang Kepulauan Seribu”. Penelitian mengenai konteks pariwisata di Pulau Untung Jawa sudah banyak dilakukan oleh berbagai instansi, baik yang diinisiasi oleh pemerintah, maupun instansi pendidikan. Namun, penelitian tersebut masih berfokus pada bagaimana pariwisata berdampak pada sektor ekonomi, sumber daya alam, dan lingkungan. Perspektif masyarakat lokal mengenai pembangunan pariwisata belum banyak dijadikan fokus dalam tulisan-tulisan mengenai pariwisata. Masyarakat lokal merupakan aktor yang paling merasakan dampak dari pembangunan pariwisata. Pembangunan pariwisata memang memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap sektor ekonomi dan lingkungan alam, tetapi kondisi sosial masyarakat lokal pun mendapatkan dampak yang juga signifikan.

Sebagai salah satu Desa Wisata Terbaik, tak dapat dipungkiri Pulau Untung Jawa Menjadi salah satu pulau dengan pembangunan pariwisata yang masif dan tentunya berjalan dengan baik. Andri, dkk (2019) mengatakan bahwa pembangunan pariwisata di Pulau Untung Jawa juga telah memberikan dampak yang positif pada warganya di sektor ekonomi, khususnya mata pencaharian yang dimana masyarakat mendapatkan pekerjaan yang lebih terformalisasi serta peningkatan dalam pendapatan.
Akan tetapi, dalam penemuan lapangan, ditemukan pembangunan pariwisata di Pulau Untung Jawa Terjadi secara tidak merata - dimana pembangunannya dibangun oleh berbagai instansi, sehingga masyarakat tersegmentasi dan mengalami perubahan mata pencaharian yang terpecah secara identitas. Segmentasi tersebut dipakai berdasarkan istilah “Barat” dan “Timur” yang digunakan oleh masyarakat Pulau Untung Jawa. Segmentasi ini ada karena adanya dua pihak pengembang yang berbeda di Pulau Untung Jawa, yaitu wilayah Barat dipegang oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan wilayah Timur dipegang oleh Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. dua perbedaan pihak pengusaha ini turut memengaruhi bagaimana arah pembangunan pariwisata di antara kedua wilayah ini berjalan.
Kondisi timur pulau untung jawa

Segmentasi wilayah tersebut dapat dilihat dari ketimpangan infrastruktur yang mencolok antara wilayah Barat dan Timur. Pembangunan pariwisata yang didorong oleh pemerintahan hanya berpusat di wilayah Timur dan pembangunan pariwisata, menurut masyarakat sekitar, di wilayah Barat dapat dikatakan “mati”. Pembangunan Pariwisata di wilayah Barat mulai mati semenjak adanya pembangunan tanggul di wilayah Barat di sekitar pulau tersebut. Tanggul yang dibangun untuk pencegahan abrasi pulau dianggap, berdasarkan wawancara dengan masyarakat sekitar, mematikan pariwisata yang ada. Hal ini dianggap seperti itu karena semenjak tanggul itu selesai dibangun, wilayah Barat Seakan kehilangan daya tariknya dan penguasa setempat juga tidak melakukan inisiatif untuk menghidupkan kembali pariwisata di wilayah tersebut. Pembangunan ini juga menyebabkan adanya transformasi mata pencaharian pada masyarakat Pulau Untung Jawa. Temuan ini tentunya telah membuat adanya pertanyaan mengenai kondisi sosial dan ekonomi Pulau Untung Jawa yang berdampak positif secara merata.

Segmentasi wilayah Barat dan Timur dengan pemegang kekuasaan pengembangan yang berbeda, yaitu wilayah Barat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan empat wilayah Timur oleh Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, turut memengaruhi bagaimana arah pembangunan wisata di antara kedua wilayah ini berjalan sesuai dengan otoritas pemangkunya. Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta menitikberatkan pariwisata dengan wisata perairan sebagai fokus utamanya.
Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki fokusnya sendiri, yaitu ke berfokus arah keberlanjutan ekosistem dan lingkungan hidup melalui pengembangan bumi kemah serta konservasi dan penanaman bibit mangrove. Menurut penduduk sekitar, pantai wilayah barat, (juga di timur yang menghadap langsung ke laut lepas) memiliki ombak yang cukup tinggi yang kerap mengakibatkan abrasi pantai. Hal ini membuat pemerintah melakukan beberapa cara untuk memulihkan pantai di wilayah tersebut, yaitu dengan pembuatan tanggul dan penanaman mangrove, sehingga pantai di wilayah barat bukan lagi menjadi pantai yang difokuskan untuk menarik perhatian wisatawan. Hal ini tentunya turut memengaruhi bagaimana dinamika perekonomian masyarakat yang berada di wilayah Barat pasca transformasi perekonomian dialihkan seluruhnya ke wilayah Timur.
Kondisi daerah Barat Pulau Untung Jawa

Masyarakat yang tinggal di daerah timur berharap daerah barat diperhatikan lebih sekedar sebagai tempat konservasi saja, tapi juga memanfaatkan daerah tersebut juga lebih diperhatikan secara penataan. Dalam penelitian lapangan, ditemukan dengan sepinya daerah tersebut, dan juga walaupun pulau tersebut sudah memiliki tempat maggot untuk food waste serta TPU, tetap memakai daerah tersebut sebagai tempat pembuangan ilegal. Dikarenakan hal tersebut, juga karena lebih terfokusnya pembangunan di daerah timur, tercipta harapan oleh masyarakat yang bersinggah di wilayah Barat, untuk juga dapat bersaing dengan masyarakat di wilayah timur, salah satunya dengan turut memanfaatkan lahan di bagian Barat Pulau Untung jawa.

Pulau Untung Jawa tidak hanya memiliki segmentasi pariwisata saja. Jika dilihat dengan seksama, terlihat adanya diferensiasi dan transisi dalam mata pencaharian di masyarakat setempat dan itu adalah salah satu produk adanya pergeseran titik fokus ekonomi di pulau tersebut: mayoritas dari warga Untung Jawa sekarang bekerja sebagai pedagang, pekerja kebersihan sekitar pulau, juga sebagai pemandu wahana air seperti banana boat, donut, dan wisata diving nemo, sementara profesi minoritas dari mereka bekerja sebagai nelayan. Mayoritas dari pedagang di Pulau Untung Jawa terpusat di wilayah bagian Timur pulau. Para pedagang yang berjualan berbaris di belakang pantai dan menjajarkan dagangan mereka yang berupa pakaian, oleh-oleh, dan makanan untuk pengunjung. Para pedagang yang ada di bagian timur tersebut disediakan oleh pemerintah tempat yang berupa ruko permanen.
Walaupun selama penelitian melihat sebagian besar pekerja di Pulau Untung Jawa adalah pedagang, sebelum adanya pendorongan transisi perekonomian ke wisata oleh pemerintah, mayoritas pekerja pulau tersebut adalah Nelayan. Dewasa ini, mereka menjaring ikan untuk dijual sebagai ikan harian yang dibeli oleh warga setempat, serta menjualnya di daratan, terutama di daerah Tangerang.
Menurut wawancara yang dilaksanakan kepada masyarakat lokal disana, pemilik kafe yang terletak di depan sekolah SD dan SMP mengatakan:
“(sekarang) mencari Ikan sudah susah sekarang karena ‘kan dulu bom-bom (sekarang dilarang). Sekarang juga ikan dijual cuma untuk warga sekitar saja.”
Hal ini benar adanya. Setelah validasi yang dilaksanakan melalui wawancara dengan nelayan sekitar, yang berada di dermaga barat, membenarkan hal tersebut. Jumlah nelayan pada tahun-tahun sekarang tidak berjumlah banyak, sekarang nelayan tidak bekerja semata-mata hanya sebagai nelayan saja, tetapi, bekerja ganda untuk sampingan: pagi sampai siang hari mereka pergi ke laut sebagai nelayan, dan pada siang sampai sore mereka bekerja pemilik dan pemandu wahana air dan pedagang. Salah satu informan, yaitu seorang nelayan, menjadi contoh diamati amati secara langsung juga menambahkan terkait hal tersebut:
“75 persen dari (pekerjaan) Untung Jawa dulu itu nelayan, 25 persen PNS, kalau sekarang kebalikannya; 75 persen PNS, 25 persen Nelayan. Untuk sekarang menjadi sulit karena jumlah tangkapan menjadi dikit (semenjak dilarang pakai bom), apalagi bensin juga susah didapatkan untuk perahu beroperasi. Belum lagi gak ketutup kalau cuma satu kerjaan mah apalagi kalau dari melaut modalnya gede, resikonya juga gede, tapi hasilnya gak pasti. Mana harga disini mahal-mahal, kalau di darat (pulau jawa) kangkung seikat 3.000, disini mah bisa 10.000 itu baru sayur aja neng belum yang lain.”
Penggunaan istilah “PNS” yang kerap dipakai oleh informan bukanlah benar-benar PNS dalam arti bekerja kantoran atau jabatan seperti lurah dan semacamnya, melainkan yang dimaksud adalah mereka yang bekerja sebagai pekerjaan umum seperti pasukan oranye (PPSU) yang membersihkan sekitaran pulau terutama pada bagian wisata pulau dan mereka yang bekerja di SPAM – terutama pada bagian Timur pulau yang menjadi episentrum wisata pulau tersebut. Pasukan oranye mulai bekerja dari pagi sebelum banyakorang keluar melakukan aktivitas mereka hingga sore membersihkan sisa-sisa sampah para wisatawan: menyapu pinggir pantai yang berserakkan dengan sisa daun dan sampah pengunjung, serta mereka yang bekerja pada pada SPAM mendistribusikan air bersih yang telah diolah ke toko-toko pedagang setiap harinya. Menurut informan pedagang sekitar, penghasilan dari pekerja “PNS” tersebut lebih menjanjikan pada masa ini ketimbang menjadi nelayan:
“Semua rata-rata dagang: Jadi suaminya PPSU, istrinya dagang. Sebenarnya Kalau ikannya (dipancing) pas tahun 80’an, 90’an ikannya, mendingan nelayan ketimbang PPSU. PPSU sebulan sekali duit 4.300.000 gajinya. Sehari-hari kan gede.Belum anak kuliah. Ya ‘kan. Duit dari mana tuh kalo pemasukan gitu doang.”

Walaupun secara ekonomi membuat penduduk di pulau tersebut memiliki penghasilan yang lebih pasti serta identitas masyarakat yang lebih nampak dengan program pemfokusan ekonomi, ada berbagai respons terhadap kebijakan pemerintah yang diterapkan di Pulau Untung Jawa terkait hal tersebut. Kejadian tersebut memberikan gambaran selama penelitian lapangan, bahwa akan ada sudut pandang masyarakat yang berbeda-beda pada aspek-aspek yang juga berbeda di Pulau Untung Jawa.
Pemerintah dengan niat memajukan pariwisata memberlakukan berbagai kebijakan yang tentunya berusaha memberikan berbagai dampak yang tidak hanya dirasakan positif oleh penduduk setempat, tetapi masih ada juga pihak yang merasa dirugikan. Sentralisasi kios di sekitar pantai timur yang awalnya berniat untuk merapikan tatanan wilayah dan memudahkan proses jual beli tidak hanya memberikan dampak positif tapi juga dampak negatif yaitu ada lapak-lapak dengan letak strategis namun ada juga lapak yang kurang strategis dan terpojok serta memicu persaingan dagang yang tidak sehat. Lurah Pulau Untung Jawa, menyebutkan bahwa kekeluargaan di Pulau Untung Jawa sangat dekat dan penduduk sudah saling mengenal dan akrab dengan satu sama lain. Kendati pernyataan dari lurah serta ketika pertama kali menapakkan kaki di pulau tersebut memang terasa, ketika melirik dan berinteraksi lebih dalam dengan pedagang setempat, akan ditemui satu pedagang dengan pedagang lain yang saling menyerobot pelanggan dan menjelek-jelekkan satu sama lain di belakang. Hal ini, belum lagi, didorong karena adanya penyeragaman barang yang dijual antara satu pedagang dengan pedagang lain.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tetap ada dua sisi dampak dan sudut pandang dimana di wilayah Pulau Untung Jawa yang pembangunannya sangat terpusat di daerah Timur, dan menjadikan daerah Barat seolah lebih terbelakang dan menjadikan terdapat beberapa kelompok masyarakat yang melakukan protes dan menyuarakan kekecewaan secara vokal. Kendati demikian, di wilayah Barat juga banyak orang-orang yang menerima saja kondisi dan kebijakan dengan keyakinan rezeki sudah ada yang mengatur. Kepasrahan ini bisa dikaitkan dengan wilayah Pulau Untung Jawa yang cenderung tidak luas dan tidak memiliki banyak pilihan. Menentang pemerintah juga dipandang akan semakin menyulitkan mereka dalam aktivitas perdagangannya, khawatir akan diberi sanksi tertentu yang akan merugikan mereka lebih besar.
Walaupun adanya pemberian title yang diemban sebagai Desa Wisata Terbaik dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia membuat Pulau Untung Jawa Mendapat perhatian lebih dari berbagai kalangan. Kendati demikian, adanya segmentasi wilayah, yaitu wilayah Barat dan Timur, dengan pemangku otoritas yang berbeda kebijakan yang berbeda sehingga membuat adanya ketidakmerataan pembangunan yang memengaruhi dinamika kehidupan masyarakat Pulau Untung Jawa, terutama dalam aspek pariwisata sebagai mata pencaharian utama masyarakat di sana.
Dalam pembangunan serta arah yang ingin digerakkan oleh pemerintah provinsi DKI jakarta sebagai pulau wisata sudah jelas dengan adanya pembangunan dan revitalisasi infrastruktur, juga dengan adanya pentransmisian mata pencarian masyarakat setempat di pulau tersebut. Akan tetapi, dalam penemuan di lapangan dan wawancara, penerapannya masyarakat masih banyak harapan serta aspirasi terhadap transformasi tersebut. Salah satunya adalah pemerataan pembangunan tersebut yang ada di seluruh pulau, bukan hanya tersentralisasi di daerah timur. Walaupun yang lebih bersuara dalam perihal tersebut adalah masyarakat yang tinggal di daerah timur, tapi secara implisit hal ini diperlukan juga oleh masyarakat keseluruhan - karena bukan hanya hal ini dapat mendorong lebih perekonomian lokal, tapi juga dapat mengurangi kecemburuan di tengah pedagang yang berjualan sangat compact berdekatan antara satu sama lain di daerah timur.
Walaupun adanya ketimpangan pemusatan pengembangan pariwisata, hakikatnya masyarakat tidak terganggu dan tidak menolak kebijakan tersebut secara eksplisit, contohnya adalah para nelayan. Dengan jumlahnya yang semakin sedikit seiring berjalannya waktu, mereka tidak merasa keberatan lantaran adanya peluang baru yang dapat dimanfaatkan, yaitu pekerjaan ganda di bidang pariwisata. Selain itu, dengan adanya pengembangan pariwisata di pulau tersebut juga mendorong adanya pengembangan lain juga turut ikut andil dalam pemfokusan ekonomi ke pariwisata, seperti kehadiran PPSU dan pengolahan air bersih untuk membantu masyarakat dalam keseharian mereka.
Referensi
Mira and T Kurniawan 2020 IOP Conf. Ser.: Earth Environ. Sci. 584 012060
DOI 10.1088/1755-1315/584/1/012060
Andri, Puspita, N., & Darmawan, F. (2019). Strategi Pengembangan Wisata BerbasisMasyarakat di Pulau Untung Jawa. Journal of Tourism Destination and Attraction ,7(1), 1-10. https://doi.org/10.35814/tourism.v7i1.781