Foto cover:
ANTARA FOTO/Abdan Syakura/foc
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah ditetapkan sebagai salah satu prioritas nasional Indonesia. Melalui program ini, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekolah dan kelompok rentan dengan memberikan akses makanan sehat tanpa biaya. Tujuannya sederhana namun krusial: menghapus malnutrisi, meningkatkan kualitas pendidikan, dan mencetak generasi yang sehat serta produktif.
Malnutrisi masih menjadi tantangan global yang menghambat pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi. Di negara berkembang seperti Indonesia, beban malnutrisi jauh lebih berat akibat ketimpangan struktural, akses air bersih yang terbatas, sistem pangan yang lemah, hingga layanan kesehatan yang belum merata.
Anak-anak dan ibu hamil dari kelompok rentan menghadapi ancaman gizi buruk yang berkelanjutan, mulai dari stunting, wasting, hingga defisiensi mikronutrien. Dampaknya tidak hanya pada tumbuh kembang, tetapi juga pada produktivitas jangka panjang dan siklus kemiskinan antargenerasi.
Namun, di balik niat mulia ini, ada tantangan besar: keberlanjutan pendanaan. Dengan kebutuhan anggaran lebih dari 70 triliun rupiah per tahun, MBG berisiko menimbulkan trade-off anggaran—memaksa pemerintah mengurangi alokasi pada sektor penting lain seperti pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur.
Sehingga menjadi penting untuk merancang gagasan agar MBG tetap berjalan lancar tanpa hambatan.
Bayangkan jika MBG tidak hanya dipandang sebagai program bantuan pangan, melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk pembangunan manusia.
Apa jadinya jika MBG didukung oleh sustainable financing—pendekatan pembiayaan cerdas yang menggabungkan berbagai instrumen inovatif seperti blended finance, carbon credits, green bonds, dan social impact bonds?
Dalam forum Global Development Public Policy Youth Innovation (GDPPYI) 2025 yang diselenggarakan UNITAR, GYLDC, dan Renmin University of China, salah satu delegasi dari Indonesia adalah Daffi Syarif Tanjung, karyawan Kitabisa yang bekerja di tim Sustainability and Governance.
Daffi (salah satu karyawan Kitabisa, divisi ESG) dan tim dari universitas Indonesia mengusung pandangan bahwa pengentasan malnutrisi memerlukan lebih dari sekadar kebijakan pemberian bantuan. Dibutuhkan tata kelola yang kuat, kolaborasi lintas sektor, dan desain pendanaan yang cerdas. Menggunakan studi kasus program MBG, mereka melihat bahwa program ini bukan hanya tentang makanan bergizi, tetapi bisa diperkuat sampai menjadi investasi kolektif menuju masa depan yang sehat, produktif, dan berkeadilan.
Pendekatan ini mengingatkan pada inisiatif Ganavira dari Kitabisa, yang mendukung pekerja disabilitas—terutama mereka yang bekerja di sektor pertanian, yang jumlahnya mencapai 43% dari total pekerja disabilitas—sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menghapus kemiskinan dan kekurangan gizi.
Dalam gagasannya yang disebut Eco-Nutri Finance, tim Daffi mengusulkan tiga pilar utama untuk memperkuat program MBG:
Daffi dan tim percaya bahwa gagasan ini sejalan dengan SDGs 1 (Tanpa Kemiskinan), 2 (Tanpa Kelaparan), 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Pendekatan ini mencerminkan bagaimana budaya, kolaborasi, dan inovasi dapat menjadi fondasi bagi kebijakan yang berdampak luas, inklusif, serta berkelanjutan.
Dengan kata lain, saran yang diusung bukan hanya menjawab kebutuhan MBG, tetapi juga turut menjawab agenda pembangunan global.
Berbagai ide lintas negara juga memperkaya pandangan ini. Tim dari Zimbabwe menyoroti integrasi teknologi dengan kekuatan komunitas, sementara perwakilan Belgia memperkenalkan konsep mobile food ecosystem berbasis energi terbarukan. Inspirasi global ini menegaskan bahwa sustainable financing untuk MBG bukan sekadar mimpi, melainkan langkah strategis yang bisa diwujudkan.
Kehadiran tim Daffi dalam forum ini membawa pesan penting: bahwa pengalaman lokal, nilai gotong royong, dan inovasi sosial dari Indonesia dapat berbicara di panggung global.
Eco-Nutri Finance untuk Investasi Kolektif
Mengatasi malnutrisi memang tidak mudah, diperlukan tata kelola yang kuat, kolaborasi multisektor, serta inovasi pembiayaan.
Melalui pendekatan Eco-Nutri Finance, tantangan gizi dapat dijawab dengan lebih berkelanjutan—menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, dan berkeadilan.