MUFG dan Kitabisa ORG Hadirkan Apartemen Kepiting untuk Mendukung Ekonomi Masyarakat Pesisir

Ternyata Masalahnya Bukan pada Kepitingnya
Yana Safitri
July 7, 2026

Ketika membayangkan budidaya kepiting, kebanyakan orang mungkin membayangkan tambak luas di pesisir. Namun bagi banyak nelayan, tantangan terbesar justru muncul setelah kepiting berhasil ditangkap atau dibudidayakan.

Kepiting memiliki karakteristik unik yang membuat proses budidaya menjadi tidak sederhana. Saat memasuki fase molting atau pergantian kulit, kepiting menjadi sangat rentan karena cangkangnya melembek dan tidak mampu melindungi diri.

Dalam kondisi tersebut, kepiting lain dapat menyerangnya. Bahkan, kepiting dikenal memiliki perilaku kanibalisme ketika berada dalam kondisi lapar atau hidup di lingkungan yang terlalu padat. Akibatnya, tingkat kematian dalam budidaya konvensional dapat menjadi tantangan serius yang berdampak langsung pada pendapatan nelayan.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana jika setiap kepiting memiliki ruang aman untuk tumbuh?

Kampung Nelayan di Tengah Kota Surabaya

Program ini berawal dari Kampung Nelayan RW 3 Kelurahan Kedung Cowek, Kecamatan Bulak, Surabaya. Kawasan pesisir ini dihuni oleh lebih dari 7.000 penduduk dengan karakteristik ekonomi yang beragam. Sebagian masyarakat menggantungkan penghidupan pada sektor perikanan dan kelautan, sementara sebagian lainnya bekerja sebagai karyawan swasta, wiraswasta, dan usaha rumahan.

Data sosial menunjukkan bahwa nelayan perikanan masih menjadi salah satu kelompok pekerjaan utama di wilayah tersebut, mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat dengan sumber daya pesisir.

Sebagai komunitas yang hidup berdampingan dengan laut, masyarakat Kedung Cowek memiliki pengetahuan lokal yang kuat. Namun seperti banyak komunitas pesisir lainnya, mereka juga menghadapi tantangan untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil laut secara berkelanjutan.

Dari Masalah Lapangan ke Inovasi Sederhana

Alih-alih memperluas tambak atau meningkatkan jumlah tangkapan, solusi yang diperkenalkan justru cukup sederhana. Setiap kepiting ditempatkan pada satu wadah khusus yang disusun bertingkat menyerupai apartemen.

Model ini dikenal sebagai Apartemen Kepiting.

Dengan sistem tersebut, setiap kepiting memiliki ruang hidup tersendiri sehingga risiko saling memangsa dapat ditekan secara signifikan. Pendekatan ini tidak hanya membantu melindungi kepiting pada fase molting yang rentan, tetapi juga membuat proses budidaya menjadi lebih terkontrol.

Hasilnya, tingkat kelangsungan hidup kepiting dilaporkan mencapai 95 - 96,3 persen selama proses budidaya. Sebuah peningkatan yang berdampak langsung pada peluang panen dan pendapatan masyarakat.

Kolaborasi untuk Ekonomi Biru yang Lebih Berkelanjutan

Melalui program Empowering The Blue Economy, MUFG bersama Kitabisa ORG mendukung 100 nelayan dan keluarga nelayan di Kampung Nelayan Nambangan, Surabaya.

Namun program ini tidak berhenti pada penyediaan sarana budidaya saja. Masyarakat juga mendapatkan pelatihan mengenai:

  • Teknik budidaya kepiting yang lebih terkontrol.
  • Cara merakit dan mengelola apartemen kepiting.
  • Produksi pakan kepiting.
  • Pengolahan hasil laut bernilai tambah.

Keluarga nelayan juga didorong mengembangkan produk turunan seperti kerupuk ikan sehingga peluang ekonomi tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan laut semata.

Pendekatan ini penting karena keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam yang tersedia, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menciptakan nilai tambah dari sumber daya tersebut.

Mengapa Program Sosial Perlu Dimulai dari Pemahaman Masalah

Banyak program sosial dimulai dari solusi. Namun pengalaman di Kampung Nelayan menunjukkan bahwa dampak yang lebih berkelanjutan justru lahir ketika program dimulai dari pemahaman masalah yang sangat spesifik.

Dalam kasus ini, masalahnya bukan sekadar rendahnya pendapatan nelayan. Masalahnya adalah tingginya risiko kehilangan hasil budidaya akibat karakter biologis kepiting itu sendiri.

Ketika akar masalah berhasil dipahami, solusi yang muncul tidak harus rumit. Kadang ia hanya berupa rak bertingkat yang memberi ruang aman bagi seekor kepiting untuk tumbuh. Dari ruang kecil itulah, peluang ekonomi baru bagi keluarga nelayan dapat mulai terbentuk.

Ketika ESG Bertemu Kebutuhan Nyata Masyarakat

Bagi perusahaan, program keberlanjutan seringkali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: Bagaimana menciptakan dampak sosial yang nyata sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat?

Kisah apartemen kepiting menunjukkan bahwa jawabannya tidak selalu harus berupa intervensi besar.

Dengan memahami tantangan lokal, melibatkan komunitas sebagai pelaku utama, dan menghadirkan solusi yang dapat terus digunakan setelah program selesai, sebuah inisiatif dapat menciptakan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan.

Tentang Kitabisa ORG
Kitabisa ORG adalah bagian dari ekosistem Kitabisa yang berfokus pada kolaborasi sosial bersama perusahaan, yayasan, komunitas, dan berbagai mitra untuk menghadirkan program berdampak bagi masyarakat. Melalui sistem pendanaan berkelanjutan, riset sosial, implementasi program, dan pengukuran dampak, Kitabisa ORG mendukung inisiatif keberlanjutan di bidang pemberdayaan, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan.
Follow us