Artikel ini ditulis berdasarkan kegiatan skrining Tuberkulosis (TB) yang dilaksanakan pada tahun 2025 di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan deteksi dini TB melalui pendekatan Active Case Finding (ACF), yaitu penemuan kasus secara aktif pada masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar penyakit tersebut.
Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 10,6 juta orang jatuh sakit akibat TB setiap tahun, dengan lebih dari 1,3 juta kematian secara global.
Indonesia sendiri termasuk negara dengan beban TB tertinggi di dunia. Diperkirakan terdapat lebih dari 800 ribu kasus TB baru setiap tahun di Indonesia, namun sebagian di antaranya belum terdeteksi atau belum tercatat dalam sistem kesehatan. Kondisi ini membuat upaya penemuan kasus secara aktif menjadi sangat penting untuk memutus rantai penularan penyakit ini.
Salah satu pendekatan yang digunakan adalah Active Case Finding (ACF), yaitu upaya menemukan kasus TB secara aktif di masyarakat, khususnya pada kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi atau memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Kabupaten Merangin dikenal sebagai wilayah dengan keragaman sosial dan budaya yang unik. Selain masyarakat desa pada umumnya, sebagian wilayahnya juga dihuni oleh komunitas adat Suku Anak Dalam atau Orang Rimba, kelompok masyarakat yang secara historis hidup berdampingan dengan hutan.
Dalam kehidupan sehari-hari, akses terhadap layanan kesehatan sering kali tidak semudah yang tersedia di wilayah perkotaan. Hal ini membuat deteksi penyakit menular seperti TB menjadi lebih menantang.
Kegiatan skrining TB yang menjadi dasar tulisan ini dilaksanakan pada tahun 2025 di Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi.
Wilayah ini memiliki keragaman sosial dan budaya yang unik. Selain masyarakat desa pada umumnya, sebagian wilayahnya juga menjadi tempat tinggal komunitas adat Suku Anak Dalam (SAD) atau Orang Rimba, kelompok masyarakat yang secara historis hidup berdampingan dengan hutan.

Bagi sebagian komunitas SAD, akses terhadap layanan kesehatan tidak selalu mudah. Faktor jarak, mobilitas komunitas, serta keterbatasan fasilitas kesehatan membuat proses pemeriksaan penyakit menular seperti TB sering kali menjadi lebih sulit dilakukan.
Karena itu, pendekatan skrining aktif menjadi penting agar layanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara langsung, termasuk kelompok yang selama ini tidak selalu mudah mengakses pemeriksaan kesehatan.
Tuberkulosis masih menjadi salah satu penyakit menular yang memerlukan perhatian serius. Penyakit ini menyebar melalui udara ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara.
Tanpa pemeriksaan dan pengobatan yang tepat, seseorang dapat menularkan TB kepada orang lain di sekitarnya. Di banyak wilayah dengan keterbatasan akses layanan kesehatan, kasus TB sering kali baru diketahui ketika kondisi pasien sudah cukup parah.
Karena itulah pendekatan skrining aktif menjadi penting. Melalui metode ini, tenaga kesehatan tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga menjangkau masyarakat secara langsung untuk melakukan pemeriksaan.
Kegiatan skrining TB dilaksanakan pada 23–27 Juni 2025 dan melibatkan lima puskesmas di wilayah Merangin. Program ini melibatkan tenaga kesehatan, kader komunitas, serta berbagai pihak yang membantu mengajak masyarakat untuk mengikuti pemeriksaan.
Skrining ini menggunakan mobil rontgen paru yang dilengkapi teknologi pembacaan X-ray berbasis artificial intelligence (AI). Teknologi ini membantu tenaga kesehatan membaca hasil rontgen paru secara lebih cepat dan akurat sehingga proses deteksi dini TB dapat dilakukan secara lebih efektif.

Dengan adanya layanan pemeriksaan keliling seperti ini, masyarakat tidak selalu harus datang langsung ke fasilitas kesehatan yang jauh dari tempat tinggal mereka. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dekat dengan komunitas, sehingga partisipasi masyarakat menjadi lebih tinggi.
Selain masyarakat umum, kegiatan skrining ini juga menjangkau berbagai kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap TB, termasuk penderita penyakit kronis, kontak erat pasien TB, serta warga binaan di Lapas II Bangko yang turut mengikuti kegiatan pemeriksaan.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa upaya skrining aktif ini mampu menjangkau masyarakat lebih luas dari yang direncanakan. Dari target awal 500 peserta, kegiatan ini berhasil menjangkau 610 orang yang mengikuti pemeriksaan.
Melalui pemeriksaan rontgen paru dan evaluasi gejala, 201 peserta teridentifikasi sebagai terduga TB dan menjalani pemeriksaan lanjutan. Sebanyak 153 orang kemudian diperiksa menggunakan tes molekuler cepat (TCM) untuk memastikan diagnosis. Dari proses tersebut, 11 kasus TB aktif berhasil ditemukan lebih dini, dengan 10 kasus di antaranya terkonfirmasi secara bakteriologis.

Temuan ini menunjukkan bahwa skrining aktif memiliki peran penting dalam menemukan kasus TB yang sebelumnya belum terdeteksi di masyarakat.
Program ini juga menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini tidak selalu mudah dijangkau oleh layanan kesehatan formal, termasuk komunitas Suku Anak Dalam di Merangin.
Salah satu pasien yang terdiagnosis berasal dari komunitas tersebut. Setelah menjalani pengobatan secara rutin selama enam bulan, pasien tersebut kini telah berhasil menyelesaikan pengobatan TB hingga tuntas, sebuah langkah penting untuk memutus rantai penularan penyakit ini.
[Placeholder testimoni pasien Suku Anak Dalam dari video]
Selain menemukan kasus TB aktif, kegiatan ini juga membantu mengidentifikasi individu yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit tersebut sehingga dapat memperoleh terapi pencegahan TB.
Menemukan kasus TB sejak dini merupakan langkah penting untuk menekan penularan penyakit ini. Dengan diagnosis yang lebih cepat, pasien dapat segera memulai pengobatan sehingga risiko penularan kepada orang lain dapat diminimalkan.
Melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, komunitas lokal, dan berbagai mitra, semakin banyak masyarakat dapat memperoleh akses pemeriksaan dan pengobatan tepat waktu.
Termasuk di antaranya komunitas Suku Anak Dalam di Merangin, yang selama ini tidak selalu mudah dijangkau oleh layanan kesehatan formal.
Upaya seperti ini menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju Indonesia bebas TB di masa depan.