Ketika Stunting Bukan Hanya Soal Makanan

Pelajaran dari Alor tentang budaya, peran ayah, dan kekuatan komunitas dalam mendukung gizi ibu dan anak
Yana Safitri
June 5, 2026

Sebuah Pertanyaan yang Muncul di Meja Makan

Di banyak keluarga Indonesia, urutan makan mungkin terasa seperti kebiasaan biasa. Ayah makan terlebih dahulu, anak-anak menyusul, lalu ibu. Namun di beberapa wilayah di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, kebiasaan tersebut memiliki dampak yang lebih besar dari yang terlihat.

Ketika makanan tersedia dalam jumlah terbatas, siapa yang makan lebih dulu akan menentukan siapa yang mendapatkan asupan gizi paling banyak. Dalam kondisi tertentu, ibu hamil justru menjadi pihak yang menerima porsi paling sedikit, meskipun mereka sedang membutuhkan nutrisi lebih besar untuk dirinya dan janin yang dikandungnya.

Temuan inilah yang menjadi salah satu titik awal Program Dukungan Nutrisi Balita dan Bumil KEK NTT yang didukung oleh Bisa Sembuh Fund dan dijalankan bersama CD Bethesda YAKKUM di Kabupaten Alor, Malaka, dan Sumba Timur.

Program ini tidak hanya berupaya menyediakan makanan bergizi bagi keluarga rentan, tetapi juga memahami faktor-faktor sosial yang memengaruhi status gizi ibu dan anak di tingkat rumah tangga.

Di Balik Angka Stunting di NTT

Meski angka stunting nasional terus menunjukkan penurunan, sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur masih menghadapi tantangan yang signifikan. Data lapangan yang dihimpun CD Bethesda YAKKUM menemukan sedikitnya 253 balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang yang berisiko mengalami stunting, serta 93 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) di wilayah dampingan program.

Di Kabupaten Alor sendiri, prevalensi stunting pada balita masih tercatat sebesar 15,6%, sementara tingkat kemiskinan mencapai hampir 20 persen penduduk. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa masalah gizi bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi keluarga.

Namun ketika tim melakukan pendampingan di lapangan, muncul temuan lain yang tidak selalu terlihat dalam data statistik.

Ketika Budaya Ikut Menentukan Status Gizi

Melalui riset kualitatif yang dilakukan setelah implementasi program berjalan, ditemukan bahwa pola pemenuhan nutrisi keluarga tidak dapat dilepaskan dari konstruksi sosial dan relasi gender yang hidup di masyarakat.

Di sebagian keluarga, urusan kesehatan anak dan pemenuhan gizi masih dipandang sebagai tanggung jawab perempuan. Laki-laki dianggap berperan sebagai pencari nafkah, sementara pengasuhan dan pengelolaan makanan keluarga menjadi urusan ibu.

Akibatnya, keputusan-keputusan penting terkait kesehatan dan nutrisi sering kali tidak menjadi perhatian bersama dalam keluarga. Bahkan dalam beberapa kasus, ibu masih memiliki ruang yang terbatas untuk menentukan kebutuhan kesehatannya sendiri.

Temuan ini memperlihatkan bahwa menyediakan makanan bergizi saja belum tentu cukup.

Jika pola pengambilan keputusan di rumah tidak berubah, risiko malnutrisi dapat terus berulang pada generasi berikutnya.

Mengapa Program Ini Tidak Hanya Membagikan Makanan

Pendekatan yang digunakan tidak berhenti pada pemberian makanan tambahan. Program ini dirancang melalui dua jalur intervensi yang berjalan bersamaan:

  1. Dukungan nutrisi berbasis pangan lokal untuk balita gizi buruk, gizi kurang, dan ibu hamil KEK.
  2. Edukasi keluarga mengenai pola asuh, kesehatan, dan gizi melalui Posyandu.

Pendekatan ini sengaja dipilih karena perubahan perilaku membutuhkan keterlibatan seluruh anggota keluarga, bukan hanya ibu. Melalui Posyandu, keluarga diajak memahami kebutuhan nutrisi anak dan ibu hamil, sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di sekitar mereka.

Bahan pangan seperti kelor, ubi-ubian, jagung, dan hasil pertanian lokal diolah menjadi makanan tambahan yang sesuai kebutuhan gizi penerima manfaat.

Temuan Tak Terduga: Para Ayah Mulai Terlibat

Salah satu hasil yang paling menarik dari program ini justru datang dari kelompok yang sebelumnya jarang menjadi target utama intervensi gizi: para ayah.

Dalam workshop pengenalan Posyandu Siklus Hidup yang dilaksanakan di wilayah program, partisipasi laki-laki cukup tinggi. Di Kabupaten Alor, 20 dari 33 peserta merupakan laki-laki kepala keluarga. Di Malaka jumlahnya mencapai 23 dari 51 peserta, sementara di Sumba Timur mencapai 30 dari 39 peserta.

Partisipasi ini menunjukkan bahwa ketika ruang keterlibatan dibuka, laki-laki sebenarnya bersedia terlibat dalam isu kesehatan keluarga. Temuan tersebut juga sejalan dengan hasil riset yang menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh penting terhadap keputusan keluarga terkait nutrisi dan kesehatan ibu-anak.

Gereja Menjadi Mitra Perubahan

Pelajaran lain yang muncul dari lapangan adalah pentingnya memahami siapa yang dipercaya masyarakat. Di Pulau Alor, lebih dari sekadar fasilitas kesehatan, gereja memiliki posisi yang sangat kuat dalam kehidupan sosial masyarakat.

Riset menemukan bahwa gereja menjadi salah satu agen perubahan paling berpengaruh dalam membentuk kesadaran ayah mengenai kesehatan keluarga dan nutrisi anak. Khotbah mingguan, kegiatan Bulan Keluarga, hingga pendampingan komunitas menjadi saluran yang efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan.

Kolaborasi antara Posyandu, tokoh agama, pemerintah desa, dan kader kesehatan akhirnya memperluas jangkauan edukasi yang sebelumnya sulit dicapai hanya melalui pendekatan kesehatan formal.

Bagi program sosial, temuan ini menjadi pengingat penting karena perubahan perilaku sering kali lebih cepat terjadi ketika pesan disampaikan melalui figur dan institusi yang sudah dipercaya masyarakat.

Dari Intervensi ke Dampak

Selama implementasi program, dukungan nutrisi berhasil menjangkau:

  • 442 balita dengan status gizi buruk atau gizi kurang.
  • 64 ibu hamil dengan kondisi KEK.

Pemantauan menunjukkan adanya perbaikan status gizi pada sebagian penerima manfaat.

Di Alor, 83% dari 201 balita penerima manfaat menunjukkan peningkatan status gizi baik. Di Sumba Timur, angka tersebut mencapai 78% dari 104 balita. Sementara di Malaka, 15% dari 137 balita menunjukkan perbaikan status gizi selama periode pemantauan.

Data ini memperlihatkan bahwa intervensi nutrisi berbasis komunitas memiliki potensi memberikan perubahan nyata ketika dijalankan secara konsisten dan didukung oleh ekosistem lokal.

Pelajaran untuk Brand yang Ingin Membangun Dampak Sosial

Banyak program CSR masih berfokus pada penyaluran bantuan sebagai tujuan akhir.Padahal pengalaman di NTT menunjukkan bahwa dampak yang lebih berkelanjutan lahir ketika program mampu memahami konteks sosial masyarakat secara lebih mendalam.

Masalah gizi tidak selalu bermula dari kurangnya makanan. Kadang ia berakar pada norma sosial, pembagian peran dalam keluarga, akses terhadap informasi, hingga siapa yang dipercaya untuk menyampaikan perubahan.

Oleh sebab itu, membangun dampak sosial bukan hanya soal menghadirkan sumber daya, tetapi juga tentang memahami manusia yang berada di balik data. Ketika komunitas lokal, Posyandu, tokoh agama, pemerintah desa, dan keluarga dapat bergerak bersama, peluang ibu dan anak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sehat menjadi jauh lebih besar.

Sering kali, perubahan besar memang dimulai dari hal yang dekat, siapa yang duduk di meja makan, siapa yang mengambil keputusan, dan siapa yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan anak-anak mereka.

Follow us