Bagaimana kalau sebuah beasiswa tidak hanya membantu nilai anak meningkat, tetapi juga membuat keluarganya lebih berdaya dan lingkungan tempat tinggalnya lebih terjaga?
Jawabannya ada di Beasiswa Tunas dari Harapan Alam, program lingkungan dan satwa dari Kitabisa ORG. Salah satunya tumbuh di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Di antara sepuluh penerima beasiswa tersebut, ada Aditya Chiko Pradana, atau akrab disapa Adit. Ia merupakan siswa SMA Muhammadiyah Sungai Bakau Kecil yang tinggal di kawasan pesisir Desa Sungai Bakau Kecil, Kecamatan Mempawah Timur.
Bagi Adit, beasiswa ini bukan sekadar bantuan untuk melanjutkan sekolah. Selama mengikuti program, nilai akademiknya meningkat dan ia berhasil mempertahankan posisi sebagai peringkat pertama di kelas. Namun, perubahan yang tumbuh di sekeliling Adit ternyata jauh lebih luas daripada catatan di rapor.
Keluarganya ikut mendapatkan pendampingan ekonomi. Warga di desanya mulai mengembangkan tambak ramah lingkungan. Adit dan penerima beasiswa lainnya juga terlibat dalam kegiatan edukasi serta penanaman mangrove di kawasan yang rawan abrasi.
Dari satu anak yang mendapat kesempatan belajar, manfaatnya perlahan menjalar kepada keluarga, tetangga, hingga lingkungan tempat mereka tinggal.
Beasiswa Tunas merupakan program pendidikan dari Harapan Alam, program konservasi Kitabisa.org, yang menggabungkan dukungan pendidikan, penguatan kapasitas akademik, edukasi lingkungan, dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan.
.jpg)
Program ini dirancang untuk anak-anak yang hidup di sekitar kawasan hutan konservasi maupun wilayah yang bergantung langsung pada sumber daya alam. Tujuannya bukan hanya membantu mereka tetap bersekolah, tetapi juga membentuk generasi yang memahami hubungan antara kehidupan manusia, kondisi ekonomi keluarga, dan kelestarian lingkungan.
Di Mempawah, Beasiswa Tunas mulai berjalan sejak 2024 dan menjangkau sepuluh penerima dari berbagai wilayah, mulai dari kawasan pesisir hingga daerah lainnya di sekitar kabupaten tersebut.
Penerimanya terdiri dari:
Para penerima beasiswa mengikuti seluruh rangkaian monitoring program, dengan tingkat kehadiran mencapai 90 persen. Banyak di antara mereka datang bersama orang tua, menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan anak turut melibatkan keluarga.
Banyak program beasiswa berakhir setelah biaya pendidikan diberikan. Beasiswa Tunas mencoba melangkah lebih jauh.
Program ini melihat bahwa tantangan pendidikan tidak berdiri sendiri. Anak bisa saja memperoleh bantuan sekolah, tetapi keberlanjutan pendidikannya tetap terancam ketika pendapatan keluarga tidak stabil atau lingkungan tempat tinggalnya semakin rusak.
Kondisi tersebut juga terlihat di Desa Sungai Bakau Kecil. Sebagian besar masyarakatnya merupakan nelayan tradisional yang menggantungkan kehidupan pada laut, mangrove, dan parit alami. Pada saat yang sama, kawasan pesisir menghadapi abrasi dan penyusutan tutupan mangrove.
.jpg)
Analisis Harapan Alam mencatat adanya defisit tutupan mangrove lebih dari 200 hektare di Mempawah dalam lima tahun terakhir. Kerusakan tersebut bukan hanya mengancam pesisir, tetapi juga dapat menekan pendapatan masyarakat yang hidup dari sumber daya laut.
Karena itu, bantuan pendidikan disambungkan dengan pemberdayaan ekonomi keluarga dan konservasi lingkungan.
Keluarga Adit menjadi salah satu keluarga penerima yang memperoleh pendampingan ekonomi. Namun, manfaat program tidak berhenti di rumah mereka.
Pendampingan kemudian berkembang dan melibatkan warga sekitar melalui pembentukan kelompok Bakau Jaya. Kelompok ini mengelola tambak budidaya ikan nila dan udang menggunakan pendekatan silvofishery.
%20(edit).jpg)
Silvofishery merupakan model budidaya yang tetap mempertahankan keberadaan mangrove. Tambak tidak dibangun dengan menggusur vegetasi pesisir, tetapi dirancang agar kegiatan ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan perlindungan ekosistem.
Tambak tersebut sempat terdampak banjir dan harus dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Meski belum menghasilkan panen besar, kegiatan budidaya tetap dilanjutkan oleh warga dengan dukungan teknis dari sejumlah mitra, termasuk Crustea dan Politeknik Negeri Pontianak.
.jpg)
Hal yang membuat pendekatan ini berbeda adalah rencana pemanfaatan hasil usaha warga.
Sebagian pendapatan tambak nantinya diputar kembali untuk kebutuhan operasional dan mendukung penanaman mangrove.
Artinya, mangrove yang melindungi pesisir tidak hanya berasal dari bantuan sesaat, tetapi perlahan ditumbuhkan melalui usaha yang dikelola masyarakat sendiri.Dari warga, dikelola warga, dan manfaatnya kembali kepada warga.
Pendidikan lingkungan dalam Beasiswa Tunas tidak berhenti sebagai materi di dalam ruangan.
Pada 28 Februari 2026, penerima beasiswa, orang tua, dan relawan komunitas inTERRAction terlibat dalam penanaman mangrove di titik rawan abrasi. Penanaman dilakukan menggunakan metode selongsong bambu untuk membantu melindungi bibit pada kawasan pesisir.
.jpg)
Kesadaran lingkungan para penerima juga dipantau secara kualitatif melalui diskusi kelompok. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka mulai memahami hubungan antara manusia dan ekosistem dengan lebih baik.
Sebagian penerima bahkan mulai berani menegur teman yang membuang sampah sembarangan.
.jpg)
Perubahan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun, keberanian untuk menjaga lingkungan sering kali memang dimulai dari tindakan kecil: tidak membuang sampah sembarangan, memahami fungsi mangrove, dan menyadari bahwa alam bukan sumber daya yang dapat terus diambil tanpa dipulihkan.
Kisah Adit memperlihatkan bahwa hasil sebuah beasiswa tidak harus berhenti pada angka akademik.
Nilainya meningkat dan ia tetap menjadi peringkat pertama di kelas. Keluarganya memperoleh peluang ekonomi baru. Warga di sekitarnya mulai mengembangkan tambak ramah lingkungan. Sementara itu, anak-anak, orang tua, dan relawan turun bersama menanam mangrove untuk menjaga desa dari abrasi.
Beasiswa Tunas menyatukan empat hal yang sering dijalankan secara terpisah: pendidikan, penguatan keluarga, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian lingkungan.
Sebab, menjaga masa depan anak tidak cukup hanya dengan memastikan mereka tetap bersekolah. Kita juga perlu memastikan keluarganya memiliki penghidupan yang lebih kuat dan lingkungan tempat mereka tumbuh tetap layak untuk ditinggali.
Dari satu tunas yang mendapat kesempatan belajar, dapat tumbuh keluarga yang lebih berdaya, masyarakat yang lebih mandiri, dan pesisir yang lebih terlindungi.
Karena masa depan yang berkelanjutan tidak hanya dibangun dengan menanam pohon, tetapi juga dengan menumbuhkan manusia yang kelak akan menjaganya.
Tentang Kitabisa ORG
Kitabisa ORG adalah bagian dari ekosistem Kitabisa yang berfokus pada kolaborasi sosial bersama perusahaan, yayasan, komunitas, dan berbagai mitra untuk menghadirkan program berdampak bagi masyarakat. Melalui sistem pendanaan berkelanjutan, riset sosial, implementasi program, dan pengukuran dampak, Kitabisa ORG mendukung inisiatif keberlanjutan di bidang pemberdayaan, lingkungan, kesehatan, dan pendidikan.